Dapur Desa, Membawa Nuansa Pedesaaan ke Tengah Penatnya Kota
April 26, 2008
Jl. Basuki Rahmat Surabaya disesaki dengan bangunan-bangunan menjulang tinggi, mulai dari perkantoran, pertokoan, bank, mal, dan sejenisnya. Namun di antara hutan-hutan beton itu ada satu bangunan yang mencolok: Sebuah ‘gubuk’ ala pedesaan dengan tulisan papan nama “Dapur Desa Traditional Resto”.
Cobalah masuk ke rumah makan yang berdiri mulai 9 September 2006 itu, alunan musik tradisional akan menyambut Anda. Mulai dari bunyi gong untuk menyambut tamu, juga musik-musik etnik Jawa-Sunda. Sesungging senyum ramah pramusaji. Ada pula suguhan prasmanan dengan aneka menu tradisional Jawa-Sunda. Benar-benar terasa seperti di kampung pedesaaan.
Tatang Hidayat, Kepala R & D Department Dapur Desa, pun menjelaskan, “Latar belakang pengambilan nama Dapur Desa adalah dari kebiasaan saja. Bila bicara soal makanan, pastilah berkaitan dengan dapur kan. Sedangkan kata “desa” itu untuk mengomunikasikan bahwa sajian menu di sini tradisional semua.”
Tampaknya, keberadaan Dapur Desa di Jl. Basuki Rahmat 72 menjawab kebutuhan masyarakat Surabaya yang ingin suasana berbeda, dengan tema back to nature untuk melepas lelah sembari menikmati hidangan. Ini terbukti pada saat launching Dapur Desa, animo warga luar biasa, “Sampai-sampai kami kewalahan,” aku Tatang.
Soal strategi apa yang diterapkan, agar keberadaan Dapur Desa untuk tetap eksis dan diterima oleh masayarakat Surabaya, Tatang menuturkan, “Yang pertama selalu dilakukan perubahan untuk meningkatkan pelayanan dan kelengkapan menu sajian tradisional.”
Setiap pengunjung, dapat menulis lembaran kecil yang telah disediakan Dapur Desa untuk memberikan kritikan atau pujian dan masukan maupun pendapat, mengenai pengalamannya menikmati hidangan. Hasil tulisan dari pengunjung lantas dievaluasi sebagai input bagi perbaikan pelayanan mereka.
“Rata-rata tiap hari Dapur Desa mendapat kunjungan antara 600-700 orang. Bila diasumsikan satu porsi seharga Rp 40,000 kurang lebih, berarti tiap hari kami mempunyai omzet Rp 28 juta,” ungkap pria berakses Sunda kental ini.
GONG … GONG …GONG …. bunyi khas yang sering didengar di Dapur Desa itu masih saja membuat Glocal kaget.
Kemudian Tatang tersenyum sembari menjelaskan, “Bunyi gong ini menjadi ciri khas kami, untuk menyambut pengunjung. Sebagai bentuk salam, sekaligus menambah nuansa romantik etnik Jawa-Sunda.”
Menurut hasil riset Program Manajemen Perhotelan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra Surabaya, Dapur Desa mendapat predikat Top of Maid Restoran yang menjual makanan Indonesia, pada tahun 2007 ini.” Dengan bangga Tatang memberikan kopi hasil riset tersebut.
Saat ditanya, apakah banyak pejabat yang berkunjung ke Dapur Desa, Tatang, menjawab dengan antusias, “Banyak! Seperti mantan Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin, pada saat masih menjabat menteri pernah kemari. Lalu mantan Menteri Koperasi, Adi Sasono. Dan masih banyak lagi penjabat yang menikmati hidangan kami di sini. Selain itu, juga banyak artis-artis Ibukota yang selalu mampir ke sini bila di Surabaya.” (Stephanus Kus Harjanto)
Entry Filed under: bisnis, indonesia, kuliner, surabaya. Tag: dapur, desa, resto.




Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed